Selasa, 20 Januari 2015

rindu

Pada hujan sore itu, aku berharap temu segera teramu. Pada senja yang menjingga itu, aku berharap ‘dia’ segera datang menuntaskan rindu yang sejak dulu tak pernah jemu datang melulu. Entah sejak kapan aku selalu menunggu sosok ‘dia’ dikedai kopi tiap senja menua. Mungkin sejak kamu tersenyum malu padaku tiga bulan yang lalu. Dan setelahnya, aku memulai semua kebiasaan yang akhirnya membuatku ketagihan. ‘Dia datang, dia datang, dia datang’ jerit hatiku ketika ‘dia’ terlihat di pintu masuk, sambil menenteng tas laptop. Ekor mataku mengikuti tiap langkah yang menapak pada lantai kayu kusam. Rinduku yang mulanya meradang, kini sudah sedikit mengurang. Aku hafal jam berapa ‘dia’ akan datang mengunjung, setengah enam, tepat ketika senja mulai menua perlahan. Sambil pura-pura menyesap kopi yang mulai mendingin, mataku melirik pada sosokmu yang duduk tak jauh dari mejaku. ‘Dia’, sibuk menantap layar laptop sambil sesekali melirik pada buku yang terbuka disampingnya, jemarinya menari di atas keyboard, tak peduli. Entah sejak kapan rindu yang awalnya tergantung kini berubah menjadi menggunung. Entah sejak kapan aku memulai peranku sebagai ‘pengamat’ yang akhir berlanjut menjadi ‘pengagum’ yang kelak mungkin berlanjut menjadi ‘pencinta’ 20 minggu aku kini menjalani peranku sebagai pengamat sekaligus pengagum. Pengagum rahasiamu—tentu saja. Melunaskan rindu yang setiap minggu datang menderu dengan menulis tentang kamu. Membunuh rindu yang setiap waktu hampir-hampir menusukku dengan segala racunnya yang mematikan segala persendian serta otot-ototku.~masih Fahrizal Fitriono—objek rindu yang selama ini selalu menderu.

Sabtu, 10 Januari 2015

Frzl

Selamat petang kamu, objek rindu 20 minggu. Hampir 5 bulan aku bertahan dengan menyandang gelar ‘pengagummu’. Di setiap kesempatan, berharap mataku dapat menangkap sosokmu dalam dekat atau jauh. Aku, tetap disini, menanti meski aku bahkan tak tahu kapan ini akan berakhir. Aku, tetap disini, menanti meski aku bahkan tak pernah tahu akhirnya akan menjadi apa. Seberapapun kuatnya kau memintaku pergi, aku tetap disini. Aku tak pernah memaksamu untuk membalas apa yang kuberi selama ini, tak pernah memintamu untuk mencintai seperti aku mencintai. Hanya, mengertilah jika seandainya kamu yang ada di posisiku. Aku tak pernah menginginkan ‘aku mencintaimu’, hanya, semesta sudah menentukan ini, dan mungkin aku tak bisa mengubahnya. Aku—maaf, bukan mauku seperti ini. Jika aku bisa memilih, aku mungkin tak pernah memilih jatuh cinta padamu, tapi aku hanyalah seorang ‘aku’, hanya penerima takdir semesta. Aku—maaf, jika bahkan aku tak pernah bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku membiarkan ini terus berkembang. Tapi, sekali lagi, ini takdir semesta. Bukan aku yang mengendalikannya. Salahkan semesta, jangan salahkan aku dengan segala ‘aku’ dan perasaanku. Yang awalnya hanya ‘pengagum’ kini berlanjut menjadi seorang ‘perindu’ lalu terus berlanjut ketingkat yang lebih tinggi. Kau takkan pernah mencintaiku—aku tahu itu. Dari awal aku sudah mengerti seperti apa resiko yang akan mendatangiku. Dan aku siap dengan segalanya. Siap dengan segala rasa sakit yang harus kuterima. Aku siap. Mungkin lebih dari siap. Aku telah mempersiapkan hatiku untuk jatuh, untuk terluka. Jangan pernah memintaku berhenti mencintaimu—mengerti? Jangan pernah memaksaku menghapus rasa yang selama ini ada—paham? Jangan pernah menghakimi perasaanku yang tak berdosa—jelas? Jangan pernah memaksa hatimu untuk menerimaku, aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Tunggulah, karena suatu saat nanti rasaku akan berhenti. Bersabarlah karena yang selama ini menurutmu menyebalkan akan terhapus. Kau tahu? Aku lelah dengan segala ‘aku’ dan segala tak acuhmu. Aku lelah.

Tumpukan Rindu



       Sabtu, 10 januari 2014

    Rindu yang selama satu bulan (kurang 1 minggu) menumpuk hingga menggunung akhirnya bisa sedikit terkurangi. Meski hanya berkurang sedikit, setidaknya aku bisa sedikit bernafas lebih lega daripada hari-hari yang telah lalu.
    Melihatmu dari jauh ternyata sudah cukup menegaskan bahwa hatiku tetap untukkmu. Jarak tak pernah memisahkan. Sayang tak pernah mempermasalahkan jarak. Seberapapun jarak yang memisahkan, aku tetap menyadari bahwa hatiku belum berpaling darimu. Aku masih yang dulu-masih sama-masih dengan segala perasaan-perasaanku untukmu.
    Melihatmu dari belakang tetap mampu membuat seisi rinduku melayang sirna. Jangan tanyakan mengapa. Karena bahkan aku tak mengerti alasannya.
    Seberapapun kuatnya kamu memintaku untuk menjauh, tetap tak mampu membuatku menjauh. Bersabarlah sebentar karena mungkin rasaku yang selama ini akan segera terhapuskan. Tapi mungkin saja perasaanku tetap seperti ini. Tetap padamu.
    Jangan salahkan aku jika mataku tetap tertuju padamu. Salahkan dirimu sendiri yang seperti magnet bagiku. Salahkan semesta yamg telah merencanakan segala-galanya.
    Tetap padamu. Jika kamu menanyakan pada siapa hatiku selama ini . Tetap kamu. Jika kamu menanyakan nama siapa yang selalu ku selipkan pada 5 waktuku.
    Biarkan ini berjalan apaadanya. Jangan paksa hatiku berhenti menujumu. Jangan paksakan perasaanku hilang. Jangan coba membunuh hatiku. Biarkan segalanya seperti ini.



Rabu, 07 Januari 2015

Nothing

Terimakasih telah menemaniku membuang rindu. Bersama secangkir kopi. Secangkir kerinduan. Juga tetesan hujan.
Mungkin rinduku pada sosokmu malam ini akan sirna, tapi aku yakin malam-malam berikutnya rindu itu akan datang lagi. Bahkan mungkin akan lebih~