Sabtu, 10 Januari 2015

Frzl

Selamat petang kamu, objek rindu 20 minggu. Hampir 5 bulan aku bertahan dengan menyandang gelar ‘pengagummu’. Di setiap kesempatan, berharap mataku dapat menangkap sosokmu dalam dekat atau jauh. Aku, tetap disini, menanti meski aku bahkan tak tahu kapan ini akan berakhir. Aku, tetap disini, menanti meski aku bahkan tak pernah tahu akhirnya akan menjadi apa. Seberapapun kuatnya kau memintaku pergi, aku tetap disini. Aku tak pernah memaksamu untuk membalas apa yang kuberi selama ini, tak pernah memintamu untuk mencintai seperti aku mencintai. Hanya, mengertilah jika seandainya kamu yang ada di posisiku. Aku tak pernah menginginkan ‘aku mencintaimu’, hanya, semesta sudah menentukan ini, dan mungkin aku tak bisa mengubahnya. Aku—maaf, bukan mauku seperti ini. Jika aku bisa memilih, aku mungkin tak pernah memilih jatuh cinta padamu, tapi aku hanyalah seorang ‘aku’, hanya penerima takdir semesta. Aku—maaf, jika bahkan aku tak pernah bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku membiarkan ini terus berkembang. Tapi, sekali lagi, ini takdir semesta. Bukan aku yang mengendalikannya. Salahkan semesta, jangan salahkan aku dengan segala ‘aku’ dan perasaanku. Yang awalnya hanya ‘pengagum’ kini berlanjut menjadi seorang ‘perindu’ lalu terus berlanjut ketingkat yang lebih tinggi. Kau takkan pernah mencintaiku—aku tahu itu. Dari awal aku sudah mengerti seperti apa resiko yang akan mendatangiku. Dan aku siap dengan segalanya. Siap dengan segala rasa sakit yang harus kuterima. Aku siap. Mungkin lebih dari siap. Aku telah mempersiapkan hatiku untuk jatuh, untuk terluka. Jangan pernah memintaku berhenti mencintaimu—mengerti? Jangan pernah memaksaku menghapus rasa yang selama ini ada—paham? Jangan pernah menghakimi perasaanku yang tak berdosa—jelas? Jangan pernah memaksa hatimu untuk menerimaku, aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Tunggulah, karena suatu saat nanti rasaku akan berhenti. Bersabarlah karena yang selama ini menurutmu menyebalkan akan terhapus. Kau tahu? Aku lelah dengan segala ‘aku’ dan segala tak acuhmu. Aku lelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar